Rabu, 25 Maret 2015
Profesor Biologi: Alquran tidak Bertentangan dengan Ilmu Pengetahuan
REPUBLIKA.CO.ID, SALSBURG -- Amina Islam lahir di Linz, Austria. Masa kecilnya habis di Munich, Jerman sebelum akhirnya ia dan kelurga menetap di Salzburg, Austria.
Amina dibesarkan dalam tradisi Kristen konservatif. Orang tuanya mendidik Amina sangat keras soal agama, moral, dan etika. "Setamat SMA, saya pelajari biologi baik di dunia kerja maupun kuliah di Universitas Salzburg," kenang dia seperti dilansir Onislam, Selasa (24/3).
Sejak awal, Amina memang aktif di gereja. Ia pelajari Alkitab. Beberapa tahun kemudian, semakin intens ia membaca banyak hal yang ia ragukan. "Saya lebih percaya adanya seorang manusia yang diutus Tuhan untuk menunjukan jalan yang benar melalui teladan dan ajarannya," kata dia.
Amina kemudian meneliti lebih lanjut soal temuannya itu. Satu kesempatan, ia harus berangkat ke Mesir untuk menjalani liburan. Satu hal yang dipikirkannya, Mesir adalah negara Islam. Penduduk mayoritas di sana memeluk Islam.
"Pengetahuan saya tentang Islam saat ini hanya prasangka buruk yang dihasilkan oleh orang-orang non-Muslim dan media. Saya tidak pernah berinteraksi dengan Muslim, dan saya memang tidak ingin berinteraksi dengan mereka. Dalam bayangan saya, Islam adalah agama yang menakutkan dan kaku," kata Amina yang kini bergelar profesor ini.
Amina pun tiba di Mesir. Di tempat hotel ia menginap, ia bertemu Walid, suaminya kelak. Keduanya aktif berkomunikasi dan berlanjut hingga Amina kembali ke Austria. Selama perjalanan pulang, Amina menyadari banyak hambatan soal hubungannya dengan Walid. Mulai dari usia, budaya, pendidikan, dan agama.
Tak berselang lama, ada perempuan Mesir yang bekerja di lembaga tempat Amina meneliti. Dari perempuan itu, Amina belajar tentang banyak hal soal Islam, budaya, dan bahasa Arab. Awalnya, niatan Amina belajar hanya karena mempermudah hubungannya dengan Walid.
Namun, ketertarikan itu melebihi niatan Amina. Ia mulai tertarik mempelajari tentang Islam. Ia beli Alquran terjemahan bahasa Jerman. Ketika membacanya, Amina terkeut.
"Saya menemukan konsep Ketuhanan yang sesuai dengan pemikiran saya," kata dia.
Walid dan Amina akhirnya menikah. Di saat bersamaan, Amina semakin intens mempelajari Islam. Ia semakin terkesan dengan Islam dan Muslim. Setibanya kembali dari Mesir, Amina mendatangi masjid dengan harapan mendapatkan informasi lebih lengkap.
"Alquran tidak hanya menjelaskan tentang Tuhan dan penciptaan dunia, tetapi juga bicara ilmu alam. Alquran tidak bertentangan ilmu pengetahuan. Saya diizinkan dan didorong Alquran menggunakan logika, kata dia.
Pada awal bulan Ramadhan 2004, Amina akhirnya mengucapkan dua kallimat syahadat. "Saya sangat senang menjadi milik umat Muslim. Saya mencoba untuk bertumbuh dalam iman kepada Allah dan pengetahuan tentang Islam dan untuk memenuhi hukum Islam sebaik mungkin," ucapnya.
Namun, ada dua masalah yang tersisa. Orang tua amina belum tahu, ia menjadi Muslim. Orang tuanya sudah tua dan sakit. Amina cemas, kabar keislaman dirinya akan menambah tekanan orang tua. Masalah kedua, ia belum bisa mengenakan hijab. Faktor lingkungan dan tempat kerja menjadi pertimbangan Amina.
"Di sisi lain, saya menggunakan setiap kesempatan untuk berbicara tentang Islam. Saya mencoba untuk hidup sebagai Muslimah yang baik, menerapkan ajaran Islam, dan memberikan contoh yang baik. Allah akhirnya membantu saya menemukan cara yang tepat dalam pencarian kebenaran, Alhamdulillah," tutupnya
Sumber:
http://khazanah.republika.co.id/berita/dunia-islam/mualaf/15/03/24/nloxwg-profesor-biologi-alquran-tidak-bertentangan-dengan-ilmu-pengetahuan
Selasa, 24 Maret 2015
Hikmah tentang Penciptaan Mulut dan Telinga Buat Ahok
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Meski Gubernur DKI Jakarta Basuki
Tjahaja Purnama alias Ahok telah meminta maaf karena berbicara kotor di
salah satu stasiun televisi swasta, namun ada sebuah hikmah bagi
pemimpin lainnya.
“Allah menciptakan mulut satu buah. Sedangkan telinga dua buah. Ini ada maknanya. Yakni, manusia diminta untuk lebih banyak mendengarkan informasi daripada banyak bicara," kata anggota Departemen Dakwah PP Persaudaraan Muslimah (Salimah) ustazah Ika Abriastuti, Sabtu (21/3).
Maka, ia menegaskan bahwa fungsi pemimpin dalam agama Islam sebagai khalifah. Artinya, wakil Allah SWT di muka bumi. Maka, pemimpin harus bisa mengendalikan emosinya dan egonya.
"Dia harus memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada rakyatnya," ujarnya.
Kalau memang tidak bisa mengucapkan kata-kata yang baik dan pantas, kata Ika, lebih baik diam. "Makanya ada pepatah diam itu emas."
Orang yang memiliki pengetahuan, terang dia, ketika berbicara perkataannya mengandung hikmah yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Seharusnya pemimpin bisa mengeluarkan kata-kata yang penuh hikmah dan bermanfaat.
“Allah menciptakan mulut satu buah. Sedangkan telinga dua buah. Ini ada maknanya. Yakni, manusia diminta untuk lebih banyak mendengarkan informasi daripada banyak bicara," kata anggota Departemen Dakwah PP Persaudaraan Muslimah (Salimah) ustazah Ika Abriastuti, Sabtu (21/3).
Maka, ia menegaskan bahwa fungsi pemimpin dalam agama Islam sebagai khalifah. Artinya, wakil Allah SWT di muka bumi. Maka, pemimpin harus bisa mengendalikan emosinya dan egonya.
"Dia harus memiliki kualitas yang lebih tinggi daripada rakyatnya," ujarnya.
Kalau memang tidak bisa mengucapkan kata-kata yang baik dan pantas, kata Ika, lebih baik diam. "Makanya ada pepatah diam itu emas."
Orang yang memiliki pengetahuan, terang dia, ketika berbicara perkataannya mengandung hikmah yang bisa dirasakan manfaatnya oleh orang lain. Seharusnya pemimpin bisa mengeluarkan kata-kata yang penuh hikmah dan bermanfaat.
Sumber:
http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-nusantara/15/03/21/nljxx0-hikmah-tentang-penciptaan-mulut-dan-telinga-buat-ahok
Rabu, 23 April 2014
Husnu-Zhan: Berkeyakinan, Bukan Bersangka Baik
dakwatuna.com – Kesalahan dalam mengartikan sebuah
istilah dalam Al-Qur’an, bisa membuat kesalahan persepsi, yang berujung
pada kesalahan dalam mengamalkannya. Oleh karena itu, hendaknya kita
memahami istilah tersebut sesuai dengan ketentuan yang benar.
Fenomena sangat sulitnya mendapatkan kepercayaan dari orang lain saat
ini, hendaknya membuat kita bertanya, apakah hal tersebut disebabkan
kesalahan kita dalam memahami istilah “husnu-zhan”? Karena, walaupun
Allah swt. telah memerintahkan husnu-zhan, banyak umat Islam yang
menyepelekan.
Makna Husnu-Zhan dan Su’u-Zhan
Dalam bahasa Arab, “zhan” bermakna hal yang diketahui dari
tanda-tanda. Seperti orang yang mengatakan, “Akan turun hujan,” setelah
dia melihat langit mendung. Tidak ada kepastian akan turun hujan.
Perkataan itu hanyalah kesimpulan yang diambil dari tanda-tanda.
Sedangkan dalam Al-Qur’an, kata “zhan” mempunyai makna lebih dari
satu. Pertama, menuduh, seperti menuduh orang lain berbuat jahat tanpa
bukti (Al-Hujurat: 12). Kedua, taklid buta, seperti orang-orang
musyrikin yang menolak ajaran Rasulullah saw. yang mempunyai banyak
bukti kebenaran, dan sebaliknya mengikuti ajaran syirik yang hanya
berdasarkan mitos (Yunus; 66). Ketiga, yakin, seperti orang yang
meyakini kematian pasti akan melaksanakan shalat dengan khusyuk
(Al-Baqarah: 46).
Dapat disimpulkan, bahwa kata “zhan” bisa bermakna ragu dan yakin.
Bagaimana menentukan salah satu makna tersebut? Ulama tafsir menyebutkan
kaidah; dalam konteks keburukan, “zhan” bermakna ragu dan sangkaan.
Sedangkan dalam konteks kebaikan, “zhan” bermakna yakin. Banyak ayat
Al-Qur’an yang menguatkan kaidah ini.
Maka, karena konteksnya adalah buruk, su’u-zhan bermakna bersangka buruk. Lalu karena konteksnya kebaikan, husnu-zhan bermakna berkeyakinan baik, bukan bersangka baik.
Kenapa Harus Berkeyakinan Baik?
Kepada sesama muslim, kita harus selalu berkeyakinan baik. Karena
selama masih beriman, imannya akan memerintahkan taat kepada Allah swt.,
dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Itu pasti dan yakin. Lalu hendaknya
kita tidak memvonisnya berbuat buruk selagi belum ada pengakuan atau
bukti-bukti yang nyata.
Inilah husnu-zhan; mengedepankan keyakinan baik, bukan mengedepankan
sangkaan baik. Karena kalau mengedepankan keyakinan baik, berarti kita
belum memvonis orang berbuat buruk, lantaran kita masih yakin orang
tersebut baik. Kita baru akan memvonisnya berbuat buruk jika ada
pengakuan atau bukti nyata.
Tapi kalau kita mengedepankan sangkaan baik, maka yang terjadi adalah
sebaliknya; kita sudah memvonisnya berbuat buruk. Kita baru akan
mengatakan dia tidak berbuat buruk kalau ada hal yang membuktikannya.
Husnu-zhan Allah swt. perintahkan dalam ayat: “Mengapa di waktu kamu mendengar berita bohong itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak berkeyakinan baik kepada sesama mereka? Dan (mengapa mereka tidak) berkata: “Ini adalah berita yang dijungkir-balikkan?” [An-Nur: 12].
Ayat ini turun setelah terjadi penyebaran isu bahwa Ibunda ‘Aisyah
ra. berbuat mesum dengan Sofwan bin Al-Mu’athal ra. Banyak umat Islam
yang terpengaruh dengan isu tersebut. Allah swt. memberi petunjuk agar
umat Islam berhusnu-zhan, meyakini kesucian Ibunda ‘Aisyah ra. selagi
belum ada pengakuan dan bukti nyata. Itulah maksud yang benar.
Allah swt. memerintahkan kita berhusnu-zhan disebabkan keterbatasan
kita sebagai manusia. Kita tidak bisa mengetahui saudara kita secara
utuh. Yang bisa kita nilai juga sekadar perbuatan lahir, sedangkan niat
sama sekali tidak kita ketahui. Ketika melihatnya berbicara dengan
seorang perempuan misalnya, kita tidak mengetahui bahwa ternyata
perempuan itu adalah adiknya, atau ibunya, atau isterinya. Kita juga
tidak mengetahui alasan dan niat yang membuatnya berbicara dengan
perempuan tersebut.
Bagaimana Bisa Berhusnu-Zhan?
Allah swt. lah yang memiliki hati kita, hendaknya kita memohon
kepada-Nya untuk membersihkan hati dari sangkaan buruk, dan menumbuhkan
keinginan untuk berhusnu-zhan.
Selalu berusaha untuk mencarikan alasan kenapa saudara kita berbuat
hal yang kita nilai buruk, bahkan dalam kondisi yang sangat sulit sekali
pun. Seorang ulama berkata, “Jika aku melihat saudaraku sedang
memegang segelas khamar, dan ada air menetes dari bibirnya, aku tetap
berhusnu-zhan; jangan-jangan dia cuma berkumur-kumur, atau itu bukan
khamar tapi air biasa.”
Selanjutnya setiap muslim hendaknya bekerja sama menghilangkan
kesempatan untuk munculnya su’u-zhan. Yaitu dengan menjauhkan diri dari
hal-hal yang rentan menjadi objek su’u-zhan. Rasulullah saw. pernah
berjalan bersama Ibunda Shafiyah ra. Dua orang sahabat melihat hal itu,
lalu menghindar ke pinggir jalan. Rasulullah saw. lalu memanggil mereka,
“Janganlah kalian bersu’u-zhan. Ini adalah Ibunda Shafiyah.” Mereka
menjawab, “Demi Allah, tidak mungkin kami bersu’u-zhan kepada engkau.”
Rasulullah saw. kembali bersabda, “Tapi setan mengalir pada diri manusia
seperti aliran darah. Aku khawatir ketika kalian lengah, dia akan
menghembuskan godaan untuk bersu’u-zhan.” [msa/dakwatuna].
Sumber: http://www.dakwatuna.com/2013/
Minggu, 26 Januari 2014
Senin, 04 Februari 2013
Keberatan Atas Dimuatnya Daftar Tokoh PKS Tersangkut Hukum
Yth. Redaksi Radar Bogor
Assalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Melalui
surat elektronik ini saya menyampaikan keberatan dan menyayangkan
dimuatnya "Daftar Tokoh PKS Tersangkut Hukum" di halaman 2 Harian Radar
Bogor edisi Jumat, 1 Februari 2013/20 Rabiul Awal 1434 H. Dalam Box
Daftar Tokoh PKS Tersangkut Hukum tersebut hanya ditampilkan informasi
nama dan status tersangka dalam berbagai kasus. Padahal nama-nama
tersebut secara hukum telah memperoleh ketetapan hukum yang tetap dan
dinyatakan tidak bersalah dan nama yang bersangkutan mendapatkan hak
rehabilitasi.
Parsialnya informasi yang ditampilkan dalam daftar tersebut jelas merugikan berbagai pihak, yaitu:
Pertama,
Pihak yang paling dirugikan adalah yang nama-nama dalam daftar yang
dimuat oleh Radar Bogor seperti Achmat Ru'yat. Nama-nama tersebut tentu
merasa terganggu, tidak nyaman, dan merasa dirugikan (materi maupun
imateri) karena status hukum yang sudah inkrakh dan dinyatakan tidak bersalah serta
mendapat hak rehabilitasi tetapi masih dipublikasikan dan menjadi opini
publik sebagai Tokoh PKS yang Tersangkut Hukum dan "ditetapkan sebagai tersangka"
Kedua,
pihak keluarga tokoh tersebut. Masing-masing nama yang dicantumkan
memiliki keluarga, baik istri, anak-anak, kerabat merasa terganggu
dengan dimuatnya nama tokoh tersebut. Dampak psikologis keluarga tokoh
PKS ini menimbulkan rasa minder dan terhakimi dalam pergaulan lingkungan
sosial
masing-masing. Baik di sekolah, lingkungan pergaulan, maupun interaksi
masyarakat secara luas. Karena keluarga mereka masih dipublikasikan oleh
media massa dengan kalimat "ditetapkan sebagai tersangka".
Ketiga, lembaga
PKS. Karena secara tersurat disebutkan bahwa nama-nama dalam daftar
tersebut adalah "Tokoh PKS" yang secara langsung maupun tidak langsung
membentuk opini bahwa PKS adalah lembaga yang tokoh-tokohnya tersangkut
kasus hukum dalam berbagai kasus.
Oleh
karena itu, saya selaku anggota masyarakat yang peduli dan menjunjung
tinggi hak-hak asasi manusia dalam memperoleh rasa aman dalam hidup
bermasyarakat dan berorganisasi menghimbau kepada Radar Bogor untuk, Pertama
meminta maaf secara langsung maupun terbuka kepada pihak-pihak yang
dirugikan dalam publikasi Radar Bogor sebagaimana dimaksud di atas
dengan dimuatnya pernyataan resmi Radar Bogor pada terbitan berikutnya
di halaman dan kolom yang sama. Kedua, agar tidak melakukan kekeliruan yang sama pada edisi berikutnya. Ketiga,
agar Radar Bogor memegang
prinsip kebebasan pers yang bertanggung jawab dan tidak terkoptasi oleh
kepentingan tertentu yang menimbulkan kerugian bagi pihak lain.
Demikian
surat elektronik ini saya sampaikan sebagai kepedulian terhadap peran
Radar Bogor sebagai salah satu pilar demokrasi.
Wassalaamu'alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
KARNAIN ASYHAR, S.P., M.Si.
Rakyat Biasa
Kamis, 17 Januari 2013
Waspada! Air di Katulampa Saat Ini Siaga II
Jakarta - Hujan yang terus mengguyur kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat membuat ketinggian air di bendung Katulampa meningkat drastis. Hingga pukul 02.50 ketinggian air tercatat 160 sentimeter atau siaga II.
"Ketinggian 160 sentimeter siaga II, karena derasnya hujan," kata petugas penjaga Bendung Katulampa, Andi Sudirman saat dihubungi detikcom, Jumat (18/1/2013).
Air diperkirakan akan masuk ke wilayah Jakarta sekitar pukul 14.00 WIB. "Air sampai di Jakarta siang nanti,"
Sementara itu ketinggian air di Pintu Air Depok mencapai 205 (Siaga III) sentimeter dan di Pintu Air Manggarai 925 sentimeter atau Siaga II.
Sumber: http://news.detik.com/read/2013/01/18/025622/2145815/10/waspada-air-di-katulampa-saat-ini-siaga-ii?9922022
"Ketinggian 160 sentimeter siaga II, karena derasnya hujan," kata petugas penjaga Bendung Katulampa, Andi Sudirman saat dihubungi detikcom, Jumat (18/1/2013).
Air diperkirakan akan masuk ke wilayah Jakarta sekitar pukul 14.00 WIB. "Air sampai di Jakarta siang nanti,"
Sementara itu ketinggian air di Pintu Air Depok mencapai 205 (Siaga III) sentimeter dan di Pintu Air Manggarai 925 sentimeter atau Siaga II.
Sumber: http://news.detik.com/read/2013/01/18/025622/2145815/10/waspada-air-di-katulampa-saat-ini-siaga-ii?9922022
Langganan:
Postingan (Atom)





